Pemprov Pancasila
Pemprov TNI
DPRD Gula

PT BIG Bantah Tudingan Rebut Paksa Lahan Warga

PENASULTRA.ID, BOMBANA – PT Bishi Industri Group (BIG) yang sedang memulai pembangunan pabrik baja di Kecamatan Mataoleo, Kabupaten Bombana memastikan tidak akan merampas lahan milik warga setempat seperti yang dituduhkan.

Bombana Gula

“Tidak ada paksaan dalam pembebasan lahan, sebelumnya sudah ada survei harga. Baik dari aspek harga pasar maupun NJOP. Dan proses ini sudah dilakukan sosialisasi baik secara formal maupun informal,” kata Abas, Direktur PT BIG saat dikonfirmasi melalui sambungan seluler, Rabu 29 Januari 2020.

Menururnya, proses pengukuran dan pembayaran dilakukan secara transparan. Bahkan, pihaknya juga sudah membuka ruang bagi pemilik lahan yang komplain.

“Jadi konflik yang terjadi umumnya antara keluarga pemilik lahan, baik dalam soal klaim-reklaim maupun sengketa batas, yang tidak ada hubungannya dengan kita,” ungkapnya.

“Begitupun soal penebangan pohon, kita memastikan itu dilalukan oleh warga dan persetujuan pemilik lahan, yang tujuannya untuk meningkatkan partisipasi dan pendapatan warga serta memastikan tumbuhan mereka dapat mereka gunakan untuk kepentingan mereka sendiri,” sambung Abas.

Tudingan rebut paksa lahan warga yang diarahkah ke PT BIG sebelumnya juga ditanggapi eks anggota DPRD Bombana, Herianto. Ia mengaku sangat mengetahui persoalan lahan di wilayah PT BIG.

Pena Siberindo

“Yang paksa itu siapa, data rill dari 800an pemilik lahan, sisa 13 orang yang bertahan. Kalau ada yang bilang mereka dipaksa dan diteror menjual tanah diharapkan polisi segera membuktikan biar kena pidana juga orang yang paksa. Satu orang pun yang memperjuangkan haknya harus diperhatikan,” tutur Herianto.

Sebelumnya, perusahaan yang baru saja memulai pembangunan baprik itu dituding melakukan tindakan melawan hukum dengan melakukan pemaksaan terhadap warga untuk menyerahkan lahannya.

Perusahaan tersebut sempat diadukan ke DPRD Sultra oleh puluhan masyarakat yang tergabung dalam Aliansi Pemuda, Masyarakat Mataoleo (APMM) belum lama ini.

Tudingan serupa juga telah dilontarkan oleh masyarakat Desa Tambako, Kecamatan Mataoleo. Ssbanyak 40 warga pemilik lahan mengaku dipaksa menjual lahannya oleh PT BIG.

“Kita dipaksa jual lahan kami dengan harga Rp7.000 per meter. Kami menolak, kenapa kami dipaksa lalu harganya sangat tidak manusiawi. Padahal lahan kami itu bukan lahan kosong, melainkan kebun yang sudah terdapat berbagai tanaman jangka panjang,” ujar Dariwa, warga Desa Tambako kepada Sultra News, Jumat 10 Januari 2020.

Penulis: Zulkarnain
Editor: Yeni Marinda

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.